Terdapat beberapa kandungan material bangunan berbahaya yang mengancam kesehatan anak dan anggota keluarga lainnya, di antaranya adalah:
1. Chlorinated Plastic (PVC)
PVC sering dimanfaatkan untuk pembuatan cat, pipa, kabel, karpet, dan lantai vinyl. PVC dapat mengganggu kesehatan ginjal dan reproduksi karena berpotensi menghasilkan dioxin yang bersifat karsinogen. Anda bisa menggunakan polyurethane yang lebih aman sebagai bahan pengganti PVC.
2. Formaldehida
Selain cat, formaldehid dapat ditemukan pada wallpaper. Wallpaper yang belum ditempel mampu mengeluarkan 700 mikrogram formaldehid per meter persegi dalam setiap jam. Formaldehid pun juga terdapat pada proses finishing lantai. Dalam jangka panjang, paparan zat kimia yang satu ini dapat meningkatkan risiko kanker otak dan leukimia. Untuk mengurangi dampak buruk formaldehida, pilih produk cat yang diformulasikan khusus agar ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan. Baca dengan teliti kemasan cat, pilih yang berbahan dasar air, bebas kandungan logam berat, serta memiliki kandungan volatile organic compound (VOC) yang mendekati nol. Terakhir, hindari menghuni langsung ruangan yang baru saja dicat. Tempati ruangan setelah aroma menyengat gas formaldehida sudah tidak tercium lagi. Untuk mempercepat proses ini, pastikan sirkulasi udara dalam rumah lancar agar gas dan aroma khas dari cat dinding dapat segera dinetralisir oleh udara segar dari luar.
3. Logam Berat
Yang termasuk logam berat antara lain: timbal, merkuri, dan kromium. Pada atap dan produk PVC sering dijumpai timbal. Merkuri biasa ditemukan pada saklar dan lampu neon. Sedangkan kromium kerap ditemukan pada furnitur rumah tangga yang terbuat dari stainless steel. Timbal dan merkuri berpotensi menyebabkan kerusakan sistem saraf dan mengganggu pertumbuhan anak, sedangkan kromium yang bersifat karsinogen berbahaya bagi kesehatan paru dan ginjal. Untuk mengurangi potensi terpapar logam berat dan emisi gas berbahaya, gunakan lampu LED. Lampu LED lebih ramah lingkungan karena tidak mengandung material yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan, dengan emisi hanya setengah dari lampu fluoresen. Selain itu, lampu LED juga mampu menghemat daya listrik hingga 80% dan tahan hingga 10-15 tahun.
4. Asbestos
Karena murah, ringan, dan tahan lama, asbes biasanya digunakan sebagai bahan plafon atau atap. Sayangnya, ternyata serat-serat asbes dapat terhirup manusia. Bila hal ini terjadi terus-menerus dapat menimbulkan penyakit, seperti mesothelioma, asbestosis, bahkan kanker paru. Tempatkan tanaman di sekitar hunian. Salah satu cara mengurangi risiko bahan kimia berbahaya dalam rumah adalah dengan meletakkan tanaman seperti suji, spider plant, dan kaktus Caribbean yang mampu menyerap polutan kimia di dalam ruangan. Maksimalkan juga HVAC atau Heating, Ventilation, and Air Conditioning. Ketiganya berhubungan erat untuk menjaga kelembapan dan pertukaran udara yang lancar di dalam ruangan.
Fokus pada desain yang baik dan tampilan rumah yang cantik saja tidak cukup. Anda juga perlu memerhatikan kesehatan keluarga. Karena itu, cari tahu apa saja pilihan material bangunan yang aman. Bila tak mungkin menghindari bahan bangunan yang mengandung material berbahaya, kurangi paparannya dengan mencari tahu material alternatif yang lebih aman. Anda juga bisa memanfaatkan material bangunan dari alam, seperti kayu, bambu, batu alam, bata merah, genteng tanah liat, dan material-material alami lainnya.
Yang terpenting, selalu gunakan material bangunan yang berkualitas, termasuk semen. Utamakan semen dengan formula khusus yang memiliki butiran lebih halus sehingga mudah dikerjakan tanpa memerlukan air yang berlebihan. Hasilnya, pengaplikasian semen kuat, padat, dan tahan lama, membuat permukaan dinding halus dan tidak mudah retak.
Severity: Notice
Message: Trying to get property of non-object
Filename: blog/index.php
Line Number: 62